Panglima Literasi Dayak: Jejak Dedikasi Master Rangkaya Bada Masri Sareb Putra untuk Peradaban Iban - WARTA CYBER -->

Selasa, 19 Mei 2026

Panglima Literasi Dayak: Jejak Dedikasi Master Rangkaya Bada Masri Sareb Putra untuk Peradaban Iban

Kongres Literasi Dayak 2026.

SEKADAU – Sosok Masri Sareb Putra kembali mendapat apresiasi luas atas dedikasinya dalam membangun dan menghidupkan semangat literasi Dayak di tingkat nasional maupun internasional. Melalui Kongres Literasi Dayak 2026 yang digelar pada 15–16 Mei 2026 di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, namanya semakin dikenal sebagai salah satu tokoh penting yang konsisten memperjuangkan marwah budaya dan intelektualitas masyarakat Dayak, khususnya Iban.

Penulis sekaligus pemerhati budaya Dayak tersebut dinilai berhasil menghadirkan ruang intelektual yang mempertemukan para tokoh, akademisi, penulis, dan pemerhati Dayak dari berbagai daerah bahkan mancanegara. Kiprah panjangnya di dunia literasi telah melahirkan banyak karya yang mengangkat identitas Dayak ke ruang publik yang lebih luas.

Salah satu peserta dan pemerhati Kongres Literasi Dayak, Grace Lukas, menyebut Masri Sareb Putra sebagai figur yang tidak pernah lelah menulis dan memperjuangkan bangsanya melalui karya-karya literasi.

“Beliau bukan hanya penulis, tetapi peneliti dan pengamat yang mendedikasikan hidupnya untuk mengangkat derajat masyarakat Dayak tanpa pamrih,” ungkap Grace Lukas.

Menurutnya, pelaksanaan Kongres Literasi Dayak 2026 bukanlah sesuatu yang hadir secara instan. Persiapan yang memakan waktu hampir satu tahun itu penuh perjuangan, pengorbanan tenaga, pikiran, hingga materi pribadi demi menghadirkan kegiatan berskala besar yang mampu membangkitkan semangat generasi muda Dayak.

Kegiatan yang berlangsung di Institut Teknologi Keling Kumang itu turut menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan daerah, di antaranya Yansen Tipa Padan, Cornelis, serta Lasarus. Kehadiran para tokoh tersebut dinilai menjadi bukti kuatnya jaringan dan relasi yang dibangun Masri Sareb Putra selama bertahun-tahun di dunia literasi dan pendidikan.

Selain seminar dan diskusi, kongres juga diisi dengan pameran buku Dayak, kunjungan ke perpustakaan daerah, hingga kegiatan literasi yang melibatkan mahasiswa dan masyarakat umum. Semangat membangun peradaban Dayak melalui pendidikan dan budaya baca menjadi pesan utama yang digaungkan selama kegiatan berlangsung.

Grace Lukas berharap semangat yang telah dibangun melalui Kongres Literasi Dayak dapat terus dijaga dan dilanjutkan oleh generasi muda Iban di masa mendatang.

“Kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi. Literasi Dayak harus terus hidup demi menjaga identitas dan masa depan bangsa Dayak,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam menyukseskan kegiatan tersebut, termasuk Pemerintah Kabupaten Sekadau, Dewan Adat Dayak Kabupaten Sekadau, pihak kampus ITKK, komunitas literasi, media, hingga masyarakat yang ikut mendukung jalannya kongres.

Kongres Literasi Dayak 2026 dinilai menjadi tonggak penting dalam perjalanan literasi Dayak modern sekaligus penegasan bahwa Kabupaten Sekadau siap menjadi salah satu pusat pendidikan, budaya baca, dan pengembangan intelektual masyarakat Dayak di Indonesia.

Salam Literasi Dayak.

  

Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Komentar